Selasa, 19 Juni 2012

Simulasi pedagogi dan Andragogi

kelompok


Pada sabtu lalu, tepatnya tanggal 16 juni 2012 jam 08.00 s/d selesai, kami belajar Psikologi Pendidikan dengan topik andragogi dan pedagogi. Seperti yang kita ketahui pedagogi adalah suatu seni ataupun ilmu dalam mendidik anak anak sedangkan andraogi adalah suatu ilmu atau seni untuk mendidik orang dewasa.

Jadi tugas kami kemarin adalah untuk mempraktekkan ataupun melakonkan andragogi dan pedagogi dalam kehidupan sehari hari. kami dibagi menjadi 13 kelompok dengan masing masing kelompok di bagi menjadi tiga orang.

Saya masuk pada kelompok sebelas dengan anggota kelompok saya, Kristin Citra Napitupulu, Dhara Puspita, dan Muhammad Rajief. Kami de beri 10 menit untuk merundingkan cerita apa yang akan kami lakonkan dalam tugas ini. Setelah selesai berunding, akhirnya kami mendapat satu cerita dan kami pun di tunjuk untuk ke depan melakonkan peran yang sudah di diskusikan.

Di depan kelas. kami mempraktekkan suatu kasus dimana seorang ibu yaitu saya sendiri mempunyai seorang anak TK yaitu Muhammad Rajief ingin belajar masak kue dari seorang pengajar kursus masak kue yaitu Dhara Puspita.

Awal nya kami mempraktekkan andragogi yaitu saya sebagai ibu belajar masak kue dengan pengajar kursus .
Pengajar kursus pembuatan kue : ok bu sekarang kita belajar membuat kue bolu, apakah sudah siap bu ?"
Ibu : "siap bu, semua bahan sudah saya siapkan bu, apa yang harus kita mulai bu ?"
Pengajar : " Baik bu, mula aduk telur dengan mixer ya bu "
Ibu : "Kemudian gulanya kan bu ?? seberapa banyak bu ?"
Pengajar :" iya bu, 1/4 aja bu "
Ibu : " kemudian apa lagi bu ?
Pengajar : "Masukkan tepungnya bu, satu gelas saja bu"
Ibu :" apa harus diberi warna bu ? baiknya warna apa bu ?"
Pengajar : "Warna hijau aja bu..lebih indah "
Ibu : "Sudah semua di masukkan bu, apalagi yang kurang bu ?"
Pengajar :"Cukup sekarang, tinggal masukkan ke adonan saja bu kemudian letakkan di oven"
Ibu : "Kita diamkan berpa menit bu ?"
Pengajar :" Lima belas menit aja bu"
Ibu : "Wah sudah selesai bu, cantik ya bu,"
Pengajar :" iya bu, Ibu sangat hebat membbuatnya, baiklah saya pamit dullu ya bu ."
Ibu : "Terima kasih bu"

Saat pembuatan kue si ibu lebih aktif bertanya dan aktif dalam mengerjakan pembuatan kue, penngajar kursus kue hanya sebagai pemandu ataupun fasilitator dalam pembuatan kue tersebut.

Di sesi kedua, si ibu ingin mengajar anaknya membaca, dengan segala bujuk rayu agar anak nya mau membaca, memberikan semangat hingga anaknya akhirnya mau membaca.
Ibu : "Adek,, tadi pagi belajar apa di sekolah ?"
Anak: "Belajar baca bu.."
Ibu : "Berarti anak ibu udah bisa baca donk. Mama pengnen dengar "
Anak: "Ah, malas bu lagi main nih ."
Ibu : "Ayo dong nak,, ntar kalo bisa baca mama ajak jalan jalan ya.."
Anak: "Bener nih ma ?. ok ayo baca ma "
Ibu : " Bener,, ok ini bacaannya apa ?"
Anak: "Bu bu.. di di... Budi.."
Ibu : "Wah,, pandai anak mama.."


Dari prakteknya kami lakukan, kami lebih memahami perbedaan dari pedagogi dan andragogi. yaitu pedagogi lebih fokus pada motivasi ekstrinsik dalam melakukan sesuatu sedangkan andragogi lebih ke motivasi instrintik. Dalam penyampaian pembelajaran pun berbeda, pedagogi lebih bersifat membujuk dan melakukan pendekatan pada anak sedangkan andragogi lebih bersifat fasilitator. Dalam pedagogi si guru lebih aktif dalam penjelasan agar anak lebih mudah menangkap sedangkan andragogi orang dewasa atau orang tua lah yang lebih aktif dalam pembelajaran. Pada Pedagogi, pembelarannya adalah dalam memecahkan masalah untuk masa depan, andragoi untuk memecahkan masalah saat ini dan harus langsung bisa di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. pedagogi

Jumat, 08 Juni 2012

Andragogi

Andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar. Istilah ini awalnya digunakan oleh Alexander Kapp, seorang pendidik dari Jerman, pada tahun 1833, dan kemudian dikembangkan menjadi teori pendidikan orang dewasa oleh pendidik Amerika Serikat, Malcolm Knowles.

Andragogi berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengarahkan orang dewasa dan berbeda dengan istilah yang lebih umum digunakan, yaitu pedagogi yang asal katanya berarti mengarahkan anak anak.

Teori Knowles tentang andragogi dapat diungkapkan dalam empat postulat sederhana:

  1. Orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pembelajaran yang mereka ikuti (berkaitan dengan konsep diri dan motivasiuntuk belajar).
  2. Pengalaman (termasuk pengalaman berbuat salah) menjadi dasar untuk aktivitas belajar (konsep pengalaman).
  3. Orang dewasa paling berminat pada pokok bahasan belajar yang mempunyai relevansi langsung dengan pekerjaannya atau kehidupan pribadinya (Kesiapan untuk belajar).
  4. Belajar bagi orang dewasa lebih berpusat pada permasalahan dibanding pada isinya (Orientasi belajar).

Istilah andragogi telah digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara pendidikan yang diarahkan diri sendiri dengan pendidikan melalui pengajaran oleh orang lain.

Secara etimologis, andragogi berasal dari bahasa Latin “andros” yang berarti orang dewasa dan “agogos“ yang berarti memimpin atau melayani.

Knowles (Sudjana, 2005: 62) mendefinisikan andragogi sebagai seni dan ilmu dalam membantu peserta didik (orang dewasa) untuk belajar (the science and arts of helping adults learn). Berbeda dengan pedagogi karena istilah ini dapat diartikan sebagai seni dan ilmu untuk mengajar anak-anak (pedagogy is the science and arts of teaching children).

Orang dewasa tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, tetapi juga dilihat dari segi sosial dan psikologis. Secara biologis, seseorang disebut dewasa apabila ia telah mampu melakukan reproduksi. Secara sosial, seseorang disebut dewasa apabila ia telah melakukan peran-peran sosial yang biasanya dibebankan kepada orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa apabila telah memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil.

Darkenwald dan Meriam (Sudjana, 2005: 62) memandang bahwa seseorang dikatakan dewasa apabila ia telah melewati masa pendidikan dasar dan telah memasuki usia kerja, yaitu sejak umur 16 tahun. Dengan demikian orang dewasa diartikan sebagai orang yang telah memiliki kematangan fungsi-fungsi biologis, sosial dan psikologis dalam segi-segi pertimbangan, tanggung jawab, dan peran dalam kehidupan. Namun kedewasaan seseorang akan bergantung pula pada konteks sosio-kulturalnya. Kedewasaan itupun merupakan suatu gejala yang selalu mengalami perubahan dan perkembangan untuk menjadi dewasa. Istilah “andogogi” berasal dari“andr” dan “agogos” berarti memimpin, mengamong, atau membimbing.

Dugan Laird (Hendayat S., 2005: 135) mengatakan bahwa andragogi mempelajari bagaimana orang dewasa belajar. Laird yakin bahwa orang dewasa belajar dengan cara yang secara signifikan berbeda dengan cara-cara anak dalam memperoleh tingkah laku baru.

Andragogi adalah suatu model proses pembelajaran peserta didik yang terdiri atas orang dewasa. Andragogi disebut juga sebagai teknologi pelibatan orang dewasa dalam pembelajaran. Proses pembelajaran dapat terjadi dengan baik apabila metode dan teknik pembelajaran melibatkan peserta didik. Keterlibatan diri (ego peserta didik) adalah kunci keberhasilan dalam pembelajaran orang dewasa. untuk itu pendidik hendaknya mampu membantu peserta didik untuk: (a) mendefinisikan kebutuhan belajarnya, (b) merumuskan tujuan belajar, (c) ikut serta memikul tanggung jawab dalam perencanaan dan penyusunan pengalaman belajar, dan (d) berpartisipasi dalam mengevaluasi proses dan hasil kegiatan belajar. Dengan demikian setiap pendidik harus melibatkan peserta didik seoptimal mungkin dalam kegiatan pembelajaran.

Prosedur yang perlu ditempuh oleh pendidik sebagaimana dikemukakan Knowles (1986) adalah sebagai berikut: (a) menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar melalui kerjasama dalam merencanakan program pembelajaran, (b) menemukan kebutuhan belajar, (c) merumuskan tujuan dan materi yang cocok untuk memenuhi kebutuhan belajar, (d) merancang pola belajar dalam sejumlah pengalaman belajar untuk peserta didik, (e) melaksanakan kegiatan belajar dengan menggunakan metode, teknik dan sarana belajar yang tepat dan (f) menilai kegiatan belajar serta mendiagnosis kembali kebutuhan belajar untuk kegiatan pembelejaran selanjutnya. Inti teori andragogi adalah teknologi keterlibatan diri (ego) peserta didik. Artinya kunci keberhasilan daam proses pembelajaran peserta didik terletak pada keterlibatan diri mereka dalam proses pembelajaran (Sudjana, 2005: 63).

Teori Belajar Orang Dewasa dan Tokohnya

1. Carl Rogers

Carl R Rogers (1951) mengajukan konsep pembelajaran yaitu “ Student-Centered Learning” yang intinya yaitu: (1) kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa menfasilitasi belajarnya; (2) Seseorang akan belajar secarasignifikan hanya pada hal-hal yang dapat memperkuat/menumbuhkan “self”nya; (3) Manusia tidak bisa belajar kalau berada di bawah tekanan (4) Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifkan bila tidak ada tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi/diakomodir. Peserta didik orang dewasa menurut konsep pendidikan adalah: (1) meraka yang berperilaku sebagai orang dewasa, yaitu orang yang melaksanakan peran sebagai orang dewasa; (2) meraka yang mempunyai konsep diri sebagai orang dewasa.

Menurut Biehler (1971: 509-513) dan jarvis (1983: 106-108) Carl Rogers adalah seorang ahli ilmu jiwa humanistik yang menganjurkan perluasan penggunaan teknik psikoterapi dalam bidang pembelajaran. Menurut pendapatnya, peserta belajar dan fasilitator hendaknya memiliki pemahaman yang mendalam mengenai diri mereka melalui kelompok yang lebih intensif. Pendekatan ini lebih dikenal dengan istilah latihan sensitivitas: kelompok, group, workshop intensif, hubungan masyarakat.

Menurut Rogers, latihan sensitivitas dimaksudkan untuk membantu peserta belajar berbagai rasa dalam penjajagan sikap dan hubungan interpersonal di antara mereka. Rogers menanamkan sistem tersebut sebagai pembelajaran yang berpusat pada peserta belajar. Pembelajaran yang berpusat pada peserta belajar pada hakekatnya merupakan versi terakhir dari metode penemuan (discovery method).

Rogers mengemukakan adanya tiga unsur yang penting dalam belajar berpengalaman (experimental learning), yaitu:

a. Peserta belajar hendaknya dihadapkan pada masalah nyata yang ingin ditemukan pemecahannya.

b. Apabila kesadaran akan masalah telah terbentuk, maka terbentuk pulalah sikap terhadap masalah tersebut.

c. Adanya sumber belajar, baik berupa manusia maupun berbentuk bahan tertulis atau tercetak.

Teori belajar berpengalaman dari Carl Rogers, Javis mengemukakan bahwa teori tersebut mengandung nilai keterlibatan personal, intelektual dan afektif yang tinggi, didasarkan atas prakarsa sendiri (self Initiated). Peranan fasilitator dalam belajar berpengalaman ialah sekedar membantu memudahkan peserta belajar menemukan kebutuhan belajar yang bermakna baginya.

Kegiatan pembelajaran yang dirancang secara sistematis, tahap demi tahap secara ketat, sebagaimana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit dan dapat diukur, kondisi belajar yang diatur dan ditentukan, serta pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih untuk siswa, mungkin saja berguna bagi guru tetapi tidak berarti bagi siswa (Roger dalam Snelbecker, 1974). Hal tersebut tidak sejalan dengan teori humanistik. Menurut teori ini, agar belajar bermakna bagi siswa, diperlukan inisiatif dan keterlibatan penuh dari siswa sendiri.Maka siswa akan mengalami belajar eksperensial (experiential learning) (Asri Budiningsih, 2005: 77).

2. Robert M. Gagne

Gagne mengemukakan yang terpenting bagi pendidikan orang dewasa terutama yang berkaitan dengan kondisi belajar. Menurutnya ada delapan hierarki tipe belajar seperti diuraikan sebagai berikut:

  1. Belajar Berisyarat; belajar berisyarat dapat pada tingkatan mana saja dari hierarki sebagai suatu bentuk: Classical Conditioning. Tipe belajar ini dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa dalam bentuk sikap dan prasangka.
  2. Belajar Stimulus Respon; belajar stimulus respon adalah sama dengan Operant Conditioning, yang responnya berbentuk ganjaran. Dua tipe berikutnya adalah rangkaian motorik dan verbal, berbeda pada tingkatan yang sama dalam hierarki.
  3. Rangkaian motorik tidak lain dari belajar keterampilan, sedangkan
  4. Rangkaian verbal adalah belajar dengan cara menghafal (rote learning).
  5. Diskriminasi Berganda; dalam belajar diskriminasi ganda, memasuki kawasan keterampilan intelektual berupa kemampuan membedakan antara beberapa jenis gejala yang serupa. Dengan tipe belajar ini, peserta belajar diharapkan memiliki kemampuan untuk menetapkan mana di antara tipe tersebut yang tepat untuk sesuatu situasi khusus.
  6. Belajar Konsep; adalah kemampuan berpikir abstrak yang mulai dipelajari pada masa remaja (adolesence). Belajar konsep merupakan salah satu unsur yang membedakan antara pendidikan orang dewasa dibandingkan dengan pendidikan anak-anak dilihat dari tingkatan pemikiran tentang konsep.
  7. Belajar Aturan; merupakan kemampuan merespon terhadap keseluruhan isyarat, merupakan tipe belajar yang penting dalam pendidikan orang dewasa. Belajar pemecahan masalah merupakan tingkat tertinggi dalam tipe belajar menurut hierarki Gagne.
  8. Pemecahan Masalah; Tipe pemecahan masalah bertujuan untuk menemukan jawaban terhadap situasi problematik.

3. Paulo Freire

Paulo Freire adalah seorang pendidik di negara Brazilia yang gagasannya tentang pendidikan orang dewasa. Menurut Flaire, pendidikan dapat dirancang untuk percaya pada kemampuan diri pribadi (self affirmation) yang pada akhirnya menghasilkan kemerdekaan diri. Ia terkenal dengan gagasannya yang disebut dengan conscientization yang terdapat tiga prinsip:

a. Tak seorang pun yang dapat mengajar siapapun juga,

b. Tak seorang pun yang belajar sendiri,

c. Orang-orang harus belajar bersama-sama, bertindak di dalam dan pada dunia mereka.

Gagasan ini memberikan kesempatan kepada orang dewasa untuk melakukan analisis kritis mengenali lingkungannya, untuk memperdalam persepsi diri mereka dalam hubungannya dengan lingkungannya dan untuk membina kepercayaan terhadap kemampuan sendiri dalam hal kreativitas kapablitasnya untuk melakukan tindakan. Fasilitator dan peserta belajar hendaknya bersama-sama bertanggung jawab terhadap berlangsungnya proses pengembangan fasilitator dan peserta belajar.

4. Jack Mezirow

Mezirow adalah Teacher College Universitas Columbia, beliau mengemukakan: “Belajar dalam kelompok pada umumnya merupakan alat yang paling efektif untuk menimbulkan perubahan dalam sikap dan perilaku individu”.

Mezirow berpendapat bahwa pendidikan sebagai suatu kekuatan pembebasan individu dari belenggu dominasi budaya penjajah, namun ia melihat kemerdekaan dari perspektif yang lebih bersifat psikologis, dan kegiatan belajar sebagai suatu metode yang dapat digunakan untuk mengubah realita masyarakat.

Keinginan belajar terjadi sebagai akibat dari refleksi pengalaman, dan ia menyatakan adanya perbedaan tingkatan refleksi, menetapkan perbedaan refleksi dan menetapkan tujuh tingkatan refleksi yang mungkin terjadi dalam masa kedewasaan, yaitu:

a. Refleksivitas: kesadaran akan persepsi khusus, arti dan perilaku

b. Refleksivitas Afektif: kesadaran akan bagaimana individu merasa tentang apa yang dirasakan, dipikirkan atau dilakukan.

c. Refleksivitas Diskriminasi: menilai kemanjuran (efficacy) persepsi, dll.

d. Refleksivitas Pertimbangan: membuat dan menjadikan sadar akan nilai pertimbangan yang dikemukakan.

e. Refleksivitas Konseptual: menilai kememadaian konsep yang digunakan untuk pertimbangan.

f. Refleksivitas Psikis: pengenalan kebiasaan membuat penilaian perasaan

Mengenai dasar informasi terbatas.

g. Refleksivitas Teoritis: kesadaran akan mengapa satu himpunan perspektif lebih atau kurang memadai untuk menjelaskan pengalaman personal.

5. Malcolm Knowles

Knowles terkenal dengan teori andragoginya, oleh karena itu dianggapBapak Teori Andragogi meskipun bukan dia yang pertama kali menggunakan istilah tersebut. Andragogi berasal dari akar kata “aner” yang artinya orang (man) untuk membedakannya dengan “paed” yang artinya anak. Andragogi adalah seni dan ilmu yang digunakan untuk membantu orang dewasa belajar. Knowles (1970) andragogi-concepts/mengembangkan konsep andragogi atas empat asumsi pokok yang berbeda dengan pedagogi. Keempat asumsi pokok itu adalah sebagai berikut Asumsi Pertama, seseorang tumbuh dan matang konsep dirinya bergerak dari ketergantungan total menuju ke arah pengarahan diri sendiri. Atau secara singkat dapat dikatakan pada anak-anak konsep dirinya masih tergantung, sedang pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian konsep dirinya inilah orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang dapat mengarahkan diri sendiri. Apabila dia menghadapi situasi dimana dia tidak memungkinkan dirinya menjadi self directing maka akan timbul reaksi tidak senang atau menolak.

Asumsi kedua, sebagaimana individu tumbuh matang akan mengumpulkan sejumlah besar pengalaman dimana hal ini menyebabkan dirinya menjadi sumber belajar yang kaya, dan pada waktu yang sama memberikan dia dasar yang luas untuk belajar sesuatu yang baru. Oleh karena itu, dalam teknologi andragogi terjadi penurunan penggunaan teknik transmital seperti yang dipakai dalam pendidikan tradisional dan lebih-lebih mengembangkan teknik pengalaman (experimental-technique). Maka penggunaan teknik diskusi, kerja laboratori, simulasi, pengalaman lapangan, dan lainnya lebih banyak dipakai.

Asumsi ketiga, bahwa pendidikan itu secara langsung atau tidak langsung, secara implisit atau eksplisit, pasti memainkan peranan besar dalam mempersiapkan anak dan orang dewasa untuk memperjuangkan eksistensinya di tengah masayarakat. Karena itu, sekolah dan pendidikan menjadi sarana ampuh untuk melakukan proses integrasi maupun disintegrasi sosial di tengah masyarakat (Kartini Kartono, 1992). Selajan dengan itu, kita berasumsi bahwa setiap individu menjadi matang, maka kesiapan untuk belajar kurang ditentukan oleh paksaan akademik dan perkembangan biologisnya, tetapi lebih ditentukan oleh tuntutan-tuntutan tugas perkembangan untuk melakukan peranan sosialnya. Dengan perkataan lain, orang dewasa belajar sesuatu karena membutuhkan tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi peranannya apakah sebagai pekerja, orang tua, pimpinan suatu organisasi, dan lain-lain. Kesiapan belajar mereka bukan semata-mata karena paksaan akademik, tetapi karena kebutuhan hidup dan untuk melaksanakan tugas peran sosialnya.

Asumsi keempat, bahwa anak-anak sudah dikondisikan untuk memiliki orientasi belajar yang berpusat pada mata pelajaran (subject centered orientation) karena belajar bagi anak seolah-olah merupakan keharusan yang dipaksakan dari luar. Sedang orang dewasa berkecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan masalah kehidupan (problem-centered-orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi masalah hidupnya. Kempat asumsi dasar itulah yang dipakai sebagai pembandingan antara konsep pedagogi dan andragogi

Lebih rinci Knowles menegaskan adanya perbedaan antara belajar bagi orang dewasa dengan belajar bagi anak-anak dilihat dari segi perkembangan kognitif mereka. Menurut Knowles, ada empat asumsi utama yang membedakan antara andragogi dan pedagogi, yaitu:

♦ Perbedaan dalam konsep diri, orang dewasa membutuhkan kebebesan yang lebih bersifat pengarahan diri.

♦ Perbedaan pengalaman, orang dewasa mengumpulkan pengalaman

♦ Kesiapan untuk belajar, orang dewasa ingin mempelajari bidang permasalahan yang kini mereka hadapi dan anggap relevan

♦ Perbedaan dalam orientasi ke arah kegiatan belajar, orang dewasa orientasinya berpusat pada masalah dan kurang kemungkinannya berpusat pada subjek.

Knowles membedakan orientasi belajar antara anak-anak dengan orang dewasa, dilihat dari segi perspektif waktu yang selanjutnya mengakibatkan terjadinya perbedaan manfaat yang mereka harapkan dari belajar

Anak-anak berkecenderungan belajar untuk memiliki kemampuan yang kelak dibutuhkan untuk melanjutkan pelajaran ke sekolah lanjutan/ perguruan tinggi, yang memungkinkan mereka memasuki alam kehidupan yang bahagia dan produktifdalam masa kedewasaan.

Orang dewasa cenderung memilih kegiatan belajar yang dapat segera diaplikasikan, baik pengetahuan maupun keterampilan yang dipelajari. Bagi orang dewasa, pendidikan orang dewasa pada hakekatnya adalah proses peningkatan kemampuan untuk menanggulangi masalah kehidupan yang dialami sekarang. (Mappa, 1994: 114)





http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/23/teori-belajar-andragogi-dan-penerapannya/

http://id.wikipedia.org/wiki/Andragogi

Hasil Proyek Mini

Kristin Citra Napitupulu ( 11-051 )

Ade Haryanto Sagala ( 11-089 )

Fiorella S. Simatupang ( 11-091 )

Topik : Pendidikan berkebutuhan khusus suatu fenomena.

Judul : Pembelajaran Operasional Life Skill Terhadap Siswa SLB C Markus Medan

Pendahuluan

Setiap orang memiliki kelebihan (hiperaktif) dan kekurangan dalam proses belajar. Kekurangan dan kelebihan (hiperaktif) ini memang dianggap berbeda dengan siswa yang normal. Jika sistem belajar pada siswa normal diterapkan pada siswa yang memiliki kekurangan atau kelebihan (hiperaktif), maka akan terjadi penurunan prestasi pada siswa yang memiliki kelebihan (hiperaktif) atau akan menjadi penyiksaan bagi siswa memiliki kekurangan. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini adalah keterbelakangan mental (mental retardation). Siswa atau anak yang menderita mental retardation adalah tunagrahita.

Tuna berati merugi, grahita berarti pikiran. Jadi, anak tuna grahita adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan / kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuiakan diri. Di Indonesia umumnya pendidikan anak tuna grahita berada di sekolah khusus yang sering disebut sekolah luar biasa. Memang ada beberapa tipe tunagrahita berdasarkan IQ-nya, ada yang ringan, sedang, dan berat.

Tujuan khusus pendidikan anak tunagrahita adalah dapat mengembangkn potensi diri dengan sebaik-baiknya, dapat menolong diri, mandiri, dan berguna bagi masyarakat serta memiliki kehidupan batin atau mental yang layak. Jika para orang tua yang sudah mengetahui anaknya mengalami tunagrahita dari test psikologi tidak segera menangani hal ini, maka anak tersebut cenderung menggantungkan diri pada orang lain.

Dengan demikian dibutuhkan usaha daripada orang disekeliling-nya (anak tuna grahita) untuk membantu meningkatkan rasa percaya diri, harga diri, dan kemampuan diri dengan penuh kesabaran. Dalam proses penumbuhan kepercayaan diri anak, sebaiknya ada proses pendidikan. Pendidikan yang tepat atau bekal hidup yang tepat untuk diberikan kepada anak tunagrahita adalah keterampilan kecakapan hidup (life skill). Baik orang yang bekerja maupun yang tidak bekerja tetap memerlukan kecakapan hidup, karena setiap manusia yang survive pasti menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan.

Landasan Teori

Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya IQ-nya dibawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Penyebab retardasi mental disebabkan oleh factor genetik dan kerusakan otak. Klasifikasi dan Tipe Retardasi Mental.

TIPE RETARDASI MENTAL

RENTANG IQ

PERSENTASE

Ringan

Moderat

Berat

Parah

55-70

40-54

25-39

<25

89

6

4

1

Mereka yang termasuk dalam tuna grahita ringan, meskipun kecerdasan dan adaptasi sosialnya terhambat, namun mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam bidang pelajaran akademik, penyesuaian social dan kemampuan bekerja. Dalam kemampuan bekerja, mereka dapat melakukan pekerjaan semi skill dan pekerjaan social sederhana, bahkan sebagian dari mereka bisa melakukan pekerjaan sebagai orang dewasa.

Tuna grahita sedang memiliki kemampuan intelektual umum dan adaptasi perilaku dibawah tuna grahita ringan. Mereka mampu memperoleh keterampilan mengurus diri (self-help); dapat melakukan adaptasi social dirumah dan di lingkungan (saling berbagi, menghormati hak milik, kerja sama); dapat belajar keterampilan dasar akademis (menghitung sederhana, mengenal nomor-nomor lebih dari dua).

Pada dasarnya anak tuna grahita memiliki kehidupan dengan anak yang normal lainnya. Namun karena kelainannya, anak tuna grahita akan mengalami hambatan memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut bahkan di antara mereka hanya bisa mencapai sebagian ataupun kurang, tergantung dari berat ringannya kelainanya juga bergantung pada perhatian dari lingkungannya.

Pengertian life skill merupakan kecakapan social untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya. (Team BBE Depdiknas 2000 dalam Dian Rukmara , 2003:22).

Menurut Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda pengertian life skill dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu :

a. Pengertian Teoritis

Life skill adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka dapat hidup mandiri. Life skill di kelompokkan ke dalam tiga kelompok kecakapan sebagai berikut :

1. Kecakapan hidup sehari-hari, antara lain meliputi : Pengelolaan kebutuhan pribadi, pengelolaan keuangan pribadi, pengelolaan rumah pribadi, kesadaran kesehatan, kesadaran keamanan, pengelolaan makanan bergizi, pengelolaan pakaian, kesadaran pribadi sebagai warga negara, pengelolaan waktu luang, rekreasi dan kesadaran lingkungan.

2. Kecakapan hidup sosial/pribadi, antara lain meliputi : Kesadaran diri (minat, bakat, sikap, kecakapan), percaya diri, komunikasi dengan orang lain, tenggang rasa dan kepedulian dan pemecahan masalah, menemukan dan mengembangkan kebiasaan positif, kemandirian dan kepemimpinan.

3. Kecakapan hidup bekerja, antara lain meliputi: Kecakapan memilih pekerjaan, perencanaan kerja, persiapan keterampilan kerja, latihan keterampilan, penguasaan kompetensi, menjalankan suatu profesi, kesadaran untuk menguasai dan menerapkan teknologi, merancang dan melaksanakan proses pekerjaan, dan menghasilkan produk barang dan jasa (Dirjen PLSP, Direktorat Tenaga Teknis, 2004: 4 ).

WHO (1997) mengemukakan kecakapan hidup adalah berbagai keterampilan/kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif. WHO mengelompokkan kecakapan hidup ke dalam lima kelompok yaitu, kecakapan mengenal diri atau kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan berpikir, kecakapan akademik, serta kecakapan kejuruan (Dirjen PLSP, Direktorat Tenaga Teknis, 2004: 5).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat diketahui bahwa hakikat pendidikan kecakapan hidup dalam pendidikan nonformal adalah upaya meningkatkan keterampilan pengetahuan, sikap dan kemampuan yang memungkinkan warga belajar dapat hidup mandiri.

b. Pengertian Operasional

Istilah life skills menurut pengertian operasional adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan penghidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.

Secara operasional, program kecakapan hidup dalam pendidikan siswa luar biasa dipilih menjadi empat jenis yaitu:

1. Kecakapan pribadi (personal skill), yang mencakup kecakapan mengenal diri sendiri, kecakapan berpikir rasional, dan percaya diri, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghargai diri sendiri.

2. Kecakapan sosial (social skill), seperti kecakapan melakukan kerjasama, bertenggang rasa, dan tanggungjawab social, mengendalikan emosi, disiplin dan bersikap sportif.

3. Kecakapan akademik (academic skill), seperti kecakapan dalam berfikir secara ilmiah, melakukan penelitian, dan percobaan dengan pendekatan ilmiah, berfikir strategis.

4. Kecakapan vokasional (vocational skill) adalah kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat, seperti di bidang jasa (perbengkelan, jahit menjahit), dan produksi barang tertentu seperti peternakan, pertanian, perkebunan (Dirjen PLSP, Direktorat Tenaga Teknis, 2004: 7).

Diharapkan tujuan pendidikan nasional lebih menekankan pada penguasaan kehidupan, kurikulum lebih merefleksikan kehidupan nyata, penyelenggaraannya benar-benar jitu dalam merealisasikan kurikulum berbasis life skill yang ditujukan pada guru memiliki penguasaan kehidupan kuat.

Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui metode pembelajaran siswa-siswi SLB C Markus yang berkaitan dengan Operasional Life Skill

2. Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran Operasional Life Skill pada siswa-siswi SLB C Markus

Alat dan Bahan

1. Kertas dan Pena

2. Kamera

3. Karton

4. Lem

5. Print Gambar

6. Reward ( Wafer & Momogi)

Subjek Observasi

33 Murid SLB C (Tunagrahita) Yayasan Markus dan 1 guru kelas SLB C Yayasan Markus

Analisis Data

Metode yang kelompok gunakan dalam penelitian Tugas Mini Proyek adalah sebagai berikut :

1. Metode Observasi Intraksional

Pada metode ini, kelompok berinteraksi dengan murid dan mengamati para murid SLB C Markus secara langsung. Dalam berinteraksi, kelompok memberi Instruksi berupa Operasional Life Skill dan dilakukan di dalam kelas. Instruksi Operasional Life Skill yang kami berikan antara lain:

a. Kecakapan Personal. Untuk mengetahui kecakapan personal siswa, kelompok ingin menilai aspek kepercayaan diri siswa dengan memberi kesempatan para sisiwa untuk bernyanyi di depan siswa lainnya.

b. Kecakapan Sosial. Untuk mengetahui kecakapan sosial siswa, kelompok menilai apakah siswa mampu menerima informasi instruksi yang kelompok berikan kepada siswa dan bagaimana kerja sama siswa. Instruksinya berupa estafet. Dengan memberi Instruksi untuk melakukan Estafet Pulpen. Estafet ini dilakukan oleh 2 siswa. Siswa pertama menaiki skuter dan membawa pulpen langsung kepada siswa ke 2 yang duduk di atas balon besar. Kemudian siswa ke 2 yang sudah menerima pulpen dari siswa pertama, melompat duduk sebanyak dua kali di atas balon dan langsung meneruskan pulpen ke garis finish yang berada tidak jauh di depan balon.

c. Kecakapan Vokasional. Untuk mengetahui kecakapan Vokasional siswa, kelompok menanyakan cita-cita siswa dengan menunjukkan dan menjelaskan gambar dengan kategori pekerja jasa dan pekerja penghasil barang. Kategori pekerja jasa antara lain: gambar dokter dan pilot, sedangkan kategori pekerja penghasil barang antara lain: koki dan petani.

2. Metode Wawancara

Untuk mengetahui kemampuan akademik siswa, kelompok menggunakan hasil belajar siswa, yaitu dengan mewawancarai guru kelas. Pertanyaan yang kami ajukan antara lain:

1. Apa saja pengelompokkan kategori siswa berdasarkan kemampuan akdemik?

2. Bagaimana cara ibu mengelompokkan kemampuan akademik siswa?

3. Apakah materi dan nilai yang diberikan pada siswa SLB C sama dengan siswa normal pada umumnya?

Kalkulasi Biaya

- Reward ( Wafer & Momogi ) 41.000

- Transportasi 30.000

- Print 1.600

- Lem 5.000

- Karton 2.500 +

Jumlah 80.100

Jadwal Perencanaan

Kegiatan

April

Mei

Juni

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

Pemilihan Tema

V


Penentuan Judul

V

Diskusi Metode dan Pelaksanaan

V


Pembuatan Pendahuluan dan Landasan Teori

V

Mengajukan surat permohonan dari Fakultas

V


Memberikan surat permohonan pada SLB C Markus

V

Observasi ke SLB C Markus

V

Membuat hasil laporan

V

V

Membuat Poster

V

Posting di Blog & Evaluasi

V

Jadwal Pelaksanaan

No

Kegiatan

Tanggal

Waktu

Tempat

1.

Pemilihan Tema

9 April 2012

12.00 wib

KELAS 3A

2.

Penentuan Judul

3 Mei 2012

13.00 wib

Uka-Uka Psikologi

3.

Diskusi Metode dan Pelaksanaan

3 MEI 2012

13.00 wib

Uka Uka Psikologi

4

Pembuatan Pendahulan dan Landasan Teori

4 Mei 2012

13.00 WIB

Di Uka-Uka Psikologi

4.

Mengajukan surat permohonan dari Fakultas

3 Mei 2012

14.00 wib

Di R.Kemahasiswaan

5.

Memberikan surat permohonan pada SLB C Markus

14 Mei 2012

10.00 wib

SLB Markus

6.

Observasi ke SLB C Markus

18, 24 , 28 Mei 2012

08.00-11.00 wib

SLB Markus

7.

Membuat hasil laporan

31 Mei 2012

11.00 wib

Kantin

8.

Membuat Poster

7 Juni 2012

14.30 wib

Kampus

9.

Posting di Blog & Evaluasi

7 Juni 2012

21.00 wib

Di kosan masing-masing


Hasil Observasi

No

Jadwal Peaksanaan

Kegiatan

Responden

Ket

1

18 Mei 2012

09.00 – 10.00 WIB

Observasi Lapangan

2 Orang

2

24 Mei 2012

a. 08.00-9.30 WIB

b. 09.30-10.30 WIB

Menguji pembelajaran life skill pada anak

a. Menyanyi ke depan bagi yang mau

b. Bermain skuter dan mewawancarai guru

a. 16 siswa

b. 17 Siswa, dan 1 guru yang diwawancarai

a. Ada 33 siswa SLB namun yang hanya ingin bernyanyi 15 orang

a. 17 siwa yang tidak ikut bernyanyi

3

28 Mei 2012

09.00 – 10.00 WIB

Menguji pembelajaran Vokasional life skill dengan memaparkan gambar “Cita citakku”

33 siswa

Yang menjawab hanya 29 siswa

Keterangan :

1. Observasi lapangan. Untuk me getahui situasi dan kondisi sekolah, kelompok bertanya kepada guru kelas SLB C yaitu pak Dedi dan bu Leli,

a. Pak Dedi : Jumlah siswa seluruhnya 103 siswa SLB B dan C, yang terdiri dari 71 siswa SLB C dan 32 siswa SLB B. Namun sebagian besar siswa tidak datang setiap hari sesuai dengan jumlah siswa seluruhnya. Uang sekolah berbeda-beda tiap tahunnya.

b. Bu Leli : Menjadi seorang guru SLB banyak tantangannya salah satunya adalah kesabaran yang besar, harus sabar dengan tingkah laku anak didik yang memiliki kemampuan yang lebih rendah di banding anak-anak normal. Anak SLB C tidak dapat focus belajar dalam waktu yang lama jadi biasanya anak SLB C harus diselingi dengan hiburan seperti menyanyi bersama.

2. Observasi Interaksional langsung terhadap siswa dan mewawancarai 1 orang guru kelas.

a. Menyanyi di depan kelas menguji bagaimana kecakapan pribadi dari masing masing siswa diSLB C. dari hasil observasi di dapat hanya 16 siswa yang mau maju kedepan dan bernyanyi, dari 16 siswa tersebut hanya 10 orang yang bernyanyi tanpa di bantu oleh guru dan menyanyi sambil menari. Dan yang lainnya menyanyi hanya karena ingin diberikan reward berupa makanan.

b. Siswa yang belum bernyanyi, selanjutnya mengikuti permainan skuter dengan bermain 2 orang satu team dalam menguji bagaimana kecakapan social dari siswa. Permainan di lakukan dengan mengantar pulpen dari satu siswa yang menaiki skuter dan mengantar pulpen tersebut ke siswa lainnya kemudian siswa tersebut menerima dan meloncat duduk di atas balon dua kali dan lari mencapai finish. Hasilnya, hanya sebagian kecil siswa yang mengerti intruksi dan gagal di penyampaian pulpen dari anak yang menaiki skuter ke anak lainnya yang duduk di balon. Ditengah anak bermain, guru diwawancari bagaimana nilai akademik siswa dalam menguji bagaimana kecakapan akademik dari siswa. Dari hasil wawancara, guru menyatakan bahwa :

· Setiap siswa-siswi Tunagrahita memiliki kemampuan akademik yang berbeda-beda, ada yang rendah dan sedang. Memang tidak ada yang memiliki kemampuan akademik yang normal yang IQ nya diatas rata-rata.

· Siswa yang rendah kemampuan akademiknya ada yang sudah bisa menulis tapi belum bisa mengetahui dan menghafal huruf-hurufnya, sedangkan siswa yang lumayan kemampuan akademiknya sudah bisa mengenal, menulis maupun membaca kata demi kata maupun kalimat. Walau begitu, siswa-siswi Tunagrahita masih sulit untuk memahami apa kalimat yang diberikan oleh guru.

· Nilai yang diberikan oleh guru tidak seperti disekolah umum biasanya, dalam hasil rapornya mereka diberikan penilaian menggunakan penjelasan tentang perkembangan mereka selama di sekolah. Mereka juga tidak memakai ranking atau juara seperti sekolah biasanya.

3. Melihat gambar “Cita Citaku” yang terdiri dari empat profesi, antara lain dokter, koki, pilot, dan petani. Penellitian ini dilakukan bagaimana menguji kecakapan vokasional siswa daam memilihi cita-cita antara jasa ataupun menghasilkan barang. Dari hasil penelitian, diperoleh 29 siswa yang menjawab cita-citanya dari 33 siswa yang berada di ruangan. Yang memilih petani 6 siswa, dokter 11 siswa, koki 8 siswa, dan pilot 4 siswa.

Evaluasi

1. Sulit menentukan judul karena banyak pendapat dari masing masing anggota sehingga sulit mengambil kesimpulan.

2. Sulit menentukan tempat observasi dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang kota Medan karena masing masing anggota bukan tinggal di kota Medan.

3. Perencanaan yang di buat tidak sesuai dengan pelaksanaan yang kami laksanakan. Dikarenakan jadwal kuliah yang membuat kami menyesuaikan agar tidak ada absen dalam mata kuliah lain dan alhasil kami mengambil jam kosong di pagi hari.

4. Pada saat ingin menguji kecakapan vokasional, awalnya direncanakan menggunakan video slide dengan menggunakan infocus, namun ternyata infocus milik SLB C tidak ada, jadi kami membatalkannya dengan menggantinya membuat gambar sesuai profesi.

5. Sulit mengatur waktu dalam diskusi pembuatan kesimpulan dan hasil pengamatan dikarenakan banyaknya tugas dari mata kuliah lain dan waktu kosong digunakan untuk jam ganti mata kuliah lain.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan di SLB C Markus tentang pembelajaran sudah hampir mencakup Operasional Life Skill karena setiap siswa-siswi Tunagrahita tidak bisa fokus lama saat belajar, jadi dibutuhkanlah selingan dengan permainan atau hiburan lainnya. Siswa yang memiliki kemampuan akdemik yang rendah sudah bisa mengenal huruf, tapi sulit untuk membaca satu persatu dari kata yang diberikan oleh guru dan berhitung. Sedangkan yang kemampuan akademiknya lumayan, sudah bisa membaca, menulis dan berhitung walau tidak sepenuhnya paham pada pembelajaran yang diberikan oleh guru.

Penerapan Operasional Life Skill pada siswa SLB C Markus belum efektif karena dalam observasi, siswa masih butuh dorongan dari siswa lain dan guru untuk bernyanyi kedepan kelas, sehingg dibutuhkan waktu yang lama untuk melanjutkan sesi berikutnya, kurangnya pemahaman intruksi yang diberikan pada siswa SLB C Markus untuk melakukan estafet skuter dan tidak ada kerja sama antara siswa (harus diarahkan oleh kelompok), kemampuan akademik yang menengah ke bawah masih sulit untuk diajarkan dan siswa masih belum mengerti sepenuhnya tentang kecakapan vocasional yang membedakan antara perkerja jasa dan penghasil barang karena kebanyakan siswa hanya mengenal dokter sebagai pekerja jasa.

Testimoni

Kristin Citra Napitupulu 11-051

Bagi saya, tugas ini sangat menarik, karena ini pengalaman pertama saya mengaplikasikan pelajaran yang saya dapat di mata kuliah pendidikan, dimana saya belajar mengobservasi, belajar melakukan penelitian secara langsung. Bukan hanya itu, saya mendapat banyak kesan dan pesan di SLB C Markus dari siswa yang begitu antusias menyambut kami sampai guru yang sabar mengajar mereka. Mungkin, banyak kendala yang kami alami, tapi lepas dari semua itu banyak hal positif yang kami dapat dibanding hal negatif.

Ade Haryanto Sagala 11-089

Menurut saya, tugas mini proyek ini sangat bermanfaat karena dapat memperkuat kerja sama antara teman. Tugas ini juga membuat saya dapat melihat dan menerapkan dengan jelas ilmu Psikologi Pendidikan di kehidupan nyata.

Fiorella Silviani Simatupang 11-091

Ini merupakan pengalaman pertama saya mengobsevasi secara langsung anak ABK. Tugas Mini Proyek ini membuat saya lebih tahu dengan apa itu life skill yang sebenarnya juga metode pembelajaran yang diberikan oleh guru pada anak Tunagrahita. Meskipun ada sedikit kendala dalam mengerjakan tugas ini, tapi saya tetap merasa puas dengan apa yang telah kami kerjakan. Juga dengan kerja kelompok tugas ini dapat mempererat tali pertemanan.

Poster

Daftar Pustaka :

repository.upi.edu/operator/upload/s_plb_054415_chapter2.pdf

Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media

Group

repository.upi.edu/operator/upload/s_kom_0703779_chapter2.pdf